tentang kisah dan jejak langkah

Test foto 1

Foto sementara

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Minggu, 09 Februari 2020

SANGSI


Sungguh, dasyat sangat rahsia 
yang ampun-ampunan kau salang pada ubun-ubunku.
Tak banyak yang aku tahu, 
karenanya,
kau tetap kuletakkan pada garis batas ambigu.



Share:

Minggu, 23 Juli 2017

Keberanian

Kamu harus aku tinggalkan,
karna aku perempuan,
butuh kepastian!
Seperti Pronocitro yang pasti datang,
meski harus mengetuk pintu Mendut, 
malam-malam.


(Jogjakarta, 2007)
Share:

Kamis, 06 Juli 2017

24 Karat, Tanpa Syarat


"Urusan hati, soal rasa, kadang tak terjangkau dengan logika."

"Anda pernah jatuh cinta?" Atau jika saya sedikit menaikkan kadar keisengan pertanyaan saya, maka saya akan menanyakan, "Seberapa sering Anda jatuh cinta?" Jatuh cinta atau mengagumi apa yang memikat dari objek yang membuat kita akhirnya merasa jatuh cinta, terkadang menimbulkan kesulitan untuk  sekadar membedakan gradasi rasa yang tercipta. Apakah rasa itu timbul murni bukan berdasar suatu kondisi atau semata-mata tercipta karena suatu tendensi. 

Kebanyakan dari kita punya seribu satu alasan untuk mendeskripsikan ketertarikan terhadap seseorang yang hendak, atau bahkan sudah menjadi pasangan. Mulai dari hal yang kasat mata, ketampanan, kecantikan, bentuk badan, serta jutaan keindahan yang rasanya diciptakan Tuhan khusus untuk memikat alam bawah sadar. Tidak berhenti sampai di situ, ketertarikan tak ayal merambat, menjangkau segala sifat yang menyentuh perasaan. Mulai dari sifat tenang, keibuan, kebapakan, bijaksana, atau ragam pilihan lain yang pada intinya menyuguhkan bergumpal-gumpal karakter positif orang yang kepadanyalah kita bertekad bulat menjatuhkan pilihan. Pendeknya, segala kelebihan menjadi hal mutlak untuk bahan perbandingan, tanpa mau menerima segenap kekurangan pribadi yang bersangkutan. Belum lagi jika rasa tercipta karena berbagai bentuk tuntutan  kehidupan. Jika disederhanakan maka akan timbul pernyataan, "Saya mau dengan kamu karena kamu punya ini, punya itu," atau "Karena kamu anak si ini, si itu," "Karena kamu pendidikannya ilmu ini, ilmu itu," "Karena profesinya si dia ini, itu," dan berbagai hal yang melatari timbulnya ungkapan 'mau'. Sungguh penuh syarat, bahkan terkadang rasanya terlampau sarat dan sungguh berat.   

Suatu malam, pada ingar-bingar derai tawa dalam pesta pertambahan usia seorang sahabat, pastor paroki  yang juga hadir, melontarkan undangan lisan kepada saya untuk menghadiri sebuah pesta. Pesta pernikahan. Pada awal ajakannya serasa tak ada yang istimewa. Puluhan, bahkan ratusan pesta pernikahan telah lewat begitu saja dalam laman hidup saya. Kadang saya menjadi bagian dari sukses jalannya pesta pernikahan, entah sebagai pengabadi gambar, pembaca kutipan ayat suci dalam pemberkatan pernikahan, dan lebih sering saya  datang hanya sebagai tamu undangan. Biasa pula saya melewati prosesi pernikahan yang menjadi momen paling sakral bagi kedua pasangan dengan rasa yang datar, tanpa embel-embel perasaan rawan yang mangkus menyita keharuan. 

Bayangan tentang pesta pernikahan pada umumnya lantas silang semburat dalam buncahan pikiran saya, namun segera dipadamkan oleh kalimat susulan pastor paroki, "Yang menikah pasien rumah sakit kusta, Mbak, dengan orang luar."  Saat itu saya tak banyak bertanya, namun di dada dan di kepala seperti ada yang berlomba-lomba, bergegas hendak menyaksikan perhelatan untuk menuntaskan segala dahaga akan berbagai keingintahuan.

22 April 2016. Suatu sore yang teduh di Jumat  yang penuh berkat. Di hadapan saya berdiri sepasang muda-mudi, berbusana pengantin lengkap dengan buket bunga di tangan calon pengantin wanita. Sekilas tak ada yang sumbang dalam pandangan mata. Jika pun wajah mereka terlihat tegang, segala kemakluman boleh disematkan. Siapa yang tak tegang jika sebentar lagi akan mengalami perubahan status dalam kehidupan. Semisal yang awalnya sendirian lantas berpasangan, atau manakala pasangan menantikan kelahiran buah hati penerus keturunan. Ya, ketegangan yang wajar dari sebuah fase penting perubahan dalam kehidupan perorangan. Yang pria bernama Roni, yang wanita adalah Ida. 

Melihat ketegangan di wajah keduanya, saya yang ikut mengabadikan dalam slide diam momen penting keduanya lantas berkelakar, "Roni, mukanya tegang amat, wajah senang, Roni, wajah senang! Idaaa…, senyum!" Namun usaha saya tak sepenuhnya berhasil, keduanya tetap memandang tegang ke arah saya, sebaliknya tamu-tamu lain malah semakin bersemangat menggoda keduanya. 

Beberapa menit berselang, tiba saat keduanya beriringan memasuki kapel di lingkup Rumah Sakit Kusta, Alverno. Tak sedikitpun ada yang lepas dari pengamatan saya di balik lensa kamera. Dari balik lensa pulalah pancaran keharuan mulai meradang dan berpendar dalam dada saya. Jika pemandangan pernikahan pada umumnya pengantin wanita melangkah lancar dengan buket bunga tetap di tangan, Ida mengalami sedikit kerepotan karena gaun pengantin yang panjang menghalangi langkah kakinya yang kurang sempurna disebabkan oleh penyakit kusta. Serta-merta Ida menyerahkan buket bunga pada ibunya dan menjinjing gaun pengantin putihnya, berjalan terseok, namun tanpa kehilangan keanggunan sebagai perempuan. Menghadapi pemandangan ini, usai menekan rana pada kamera, saya bergegas membalikkan badan, secepatnya memasuki kapel. Tak tega, hati saya kehilangan kuasa, mata saya mulai berkaca-kaca.

Misa pemberkatan pernikahan yang sedianya dipimpin oleh pastor lain ternyata sengaja diambil alih oleh pastor paroki. Beliau rupanya tak ingin kehilangan momen spesial mempersatukan dua insan yang telah dipilih dan dipertemukan Tuhan dalam ikatan pernikahan.
Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan lancar. Sedikit yang berbeda adalah pada bagian saat pasangan meminta restu dari orang tua untuk memulai  babak baru kehidupan. Jika pada umumnya kedua pasangan memohon restu dengan cara sungkem, maka disebabkan keterbatasan fungsi organ tubuh pengantin perempuan, proses sungkem tak dilakukan, melainkan diganti dengan penumpangan  tangan orang tua pengantin di pundak keduanya. Pada bagian ini keharuan masih melingkupi atmosfer kapel. 

Ketegangan hilang manakala janji pernikahan usai diikrarkan, penyematan cincin pengikat telah dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan pembukaan cadar pengantin perempuan yang disusul pendaratan ciuman oleh sang pasangan. Sorak-sorai dan tepuk tangan 70-an hadirin yang didominasi rekan-rekan pasien kusta lainnya membahana dalam kapel nan sederhana. Semua sungguh bergembira, semua larut dalam tawa, semua membaur dalam suka cita.

Ida, masih dari balik lensa, manakala saya temukan rona bahagia memancar dari pribadimu nan sederhana. Cinta dan kemenangan telah kau genggam dalam sematan cincin pernikahan. Ya, dalam cinta 24 karat dari Roni yang memilih dan mencintaimu, tanpa syarat!



Share:

Jumat, 02 Juni 2017

Yang Awesome dari Wonder Woman 😎

Akhirnya yang ditunggu-tunggu sejak kapan tau muncul juga di layar lebar. Yep! Superhero perempuan yang kehadirannya dalam Batman vs Superman; Dawn of Justice besutan Zack Snyder lebih dari setahun silam memang sukses menculik perhatian. Dalam Batman vs Superman, doi muncul sekilas dalam beberapa scene tapi dihadirkan dengan pesona level maksimal membuat mbak sexy mantan Miss Israel ini benar-benar bersinar terang. Masih di kisaran penampilannya di Dawn of Justice, di film itu selain sexy, kemunculan yang tepat pada waktunya ditambah ilustrasi musik yang pun terkesan luar biasa memacu adrenalin kian menimbulkan 'greget' tersendiri bagi sosoknya. Tampil elegant dan sexy plus memiliki kekuatan yang mengagumkan rasanya cukup menjadi poin pembangun karakter paling membuat penasaran untuk jauh lebih diperhatikan oleh pirsawan. (3 kali saya mengulang kata sexy dalam paragraf ini. Berarti mbaknya memang benar-benar sexy menurut saya! πŸ˜ƒ)

Menggunakan alur campuran dengan setting tempat-tempat mengagumkan. Gambaran planet bumi menjadi 'pembuka mantra' legenda ala DC comics yang mengusung perempuan sebagai superheronya. Film ini juga menjadi pembelajaran bagi para orang tua yang harus lebih peka terhadap tumbuh kembang psikologis anak. Bagaimana tidak, sejak awal ditekan bahwa anak adalah peniru andal segala perilaku orang dewasa. Diana yang nanti setelah dewasa menjelma menjadi Wonder Women (WW) sedari kecil sudah disuguhi pemandangan latihan bela diri ala perempuan-perempuan Amazone. Dari kebiasaan itu juga akhirnya ia yang adalah anak Dewa Zeus berlatih mengalahkan sang abang. (Pas nulis abang kok rasanya agak aneh ya.. mungkin karena biasanya kalau pake kata abang, saya bakalan bilang "Bang, 1 mangkok ga pake bihun ya!" Ato "Bang, Bang, kiri Bang!"πŸ˜‚ *sorry buat yang dipanggil abang oleh pacar ato pasangannya 😝)

Di film ini saya melihat ada kecenderungan kiblat beladiri yang dianut oleh doi dan kroni-kroninya adalah capoeira. Perhatikan saja beberapa kali dengan terang dan jelas gerakan menendang dengan teknik memutar 360° disodorkan ke hadapan penontonnya.

Masih di kisaran alur, secara pribadi ada yang agak mengecewakan bagi saya. Tampaknya sang sutradara belajar banyak dari Dawn of Justice yang kala itu menuai kritikan akibat lompatan-lompatan alur mahadahsyat yang sempat membingungkan penonton. Bercermin dengan kekecewaan yang lalu, penulis skenario dan sutradara WW terkesan lebih pelan dan hati-hati. Saking pelannya bahkan 30 menit pertama saya cenderung mengalami kebosanan karena rasanya terlalu banyak obrolan bertele-tele dengan aksi-aksi standar. Mungkin lambatnya alur berkaitan dengan sekuel yang semoga digarap lagi di tahun-tahun berikutnya. Jadi film kali ini hanya permulaan yang menjelaskan asal usul, cikal bakal WW. Berkaitan dengan jalannya alur yang perlahan rasanya semua termaafkan dengan mendapuk Gal Gadot sebagai pemeran utama yang memang berparas cantik lagi body ciamik. Ia semacam daya hipnotis tersendiri yang sanggup membuat saya bergumam, "Tuhan saat kau menciptakan mbak ini, pasti hati-Mu sedang senang! Look at her eyes, her lips, her body. Just perfect!"

Beralih pada bagian lain yang tak kalah menyandera perhatian. Kostumnya! Saya memang harus bilang Wow sejak kali pertama melihatnya di Batman vs Superman. Sexy tapi ga bitchy, terbuka tapi sepertinya (sepertinya lho ya..) enggak menimbulkan birahi bagi para penonton di luar kaum hawa πŸ˜‚ kecuali hmm.. imaji-imaji liar yang.. ah sudahlah tak perlu diteruskan, you know what I mean 😝 warna kostum dan desainnya meski mengadopsi desain awal dan asal kemunculan dalam komik, tapi tetap ga lepas dari polesan kekinian hanya saja yang sekarang lebih sopan ditambah penutup 'segitiga' ajaib semacam yang digunakan ksatria-ksatria zaman Romawi. Lanjut, mari kita bicara soal *'curiga'-nya mbak WW. Kemunculan tali lasso salah satu senjata andalan WW dalam beberapa kali rasanya kurang greget. Saya pribadi berharap ketika lasso ini dililitkan pada tubuh korban yang hendak diketahui kejujurannya, ada ekspresi yang lebih menyentak tapi ternyata hanya sebatas itu saja yang disodorkan oleh sang sutradara. Entah mengapa saya tiba-tiba membayangkan akting Jenifer Lopez di Enough pada salah satu scene-nya yang terasa lebih menggigit, sekaligus berkhayal andai para tokohnya seekspresif JLo, pasti lebih 'ugh!' πŸ’ͺπŸ‘ŠπŸ˜Ž Berbeda halnya dengan penggunaan gelang penangkis peluru plus penghimpun kekuatan yang ketika digunakan menimbulkan efek getaran suara yang sungguh-sungguh cetar membahana seluruh studio 3 (yang ini saya suka, saya suka!) πŸ™Œ

Ada yang jernih saya tangkap dari kisah ini. Ternyata dendam tak selamanya negatif! Selama dendam itu berhasil dibelokkan pada alur yang sepantasnya, maka efek-efek positif rasanya akan lebih dominan. Lihatlah, WW semakin bertekad kuat menghakimi Ares sejak melihat sang cinta pertama meledak di udara bersama pesawat dan tumpukan senjata kimia. Dan satu hal lagi, belajar dari hmmm sapa tuh, Patrick yang jelmaan Ares, bahwasanya hal paling menyakitkan adalah pengkhianatan dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal dan bahkan bersikap manis di hadapan. Kalau kata Bang Napi, "Waspadalah, waspadalah!"

Oiya, FYI (For Your Information), karena saya perempuan, hmm.. ada berapa adegan membuat baper. Mari saya rinci. 1. Adegan tidur di perahu layar yang membuat geregetan tapi sekaligus membuat penonton kecewa. We need more! πŸ˜…Saya pribadi sudah berpikir sampai kemana-mana khas ala-ala film superhero yang tetap dibumbui adegan-adegan 'rockmantic' πŸ˜‚πŸ˜ˆπŸ‘…ternyata dalam adegan ini sang sutradara memang sungguh punya etika, mereka tak bercinta di atas tenangnya samudera. 2. Adegan Steve dan Diana memasuki gerbang London via perairan mengingatkan saya pada salah satu adegan di Titanic saat Rose Dawson memasuki wilayah Amerika dengan latar Patung Liberty megah berdiri ketika dilewati. Sungguh, alam bawah sadar kita diajak untuk mengagumi simbol-simbol kemegahan Eropa dan Amerika. 3. Adegan Steve dan Diana yang berdansa di bawah guguran salju membuat saya lantas berkhayal, "Hei you! Come, dance with me, come.." (ngarep 😝)

Untuk pemeran Steve sendiri, kok kurang ganteng ya yang dipilih. Harusnya cari yang lebih handsome donk ya.. secaraaa.. doi kan bakal jadi cinta pertamanya Diana. Dan satu lagi, untuk pemeran dr Poison, sumpah, ini perempuan ngeselin banget, dari wajah dan kelakuannya. Bisa dikatakan dia sukses memerankan karakter antagonis ahli kimia yang psikopat. Bicara soal ekstrinsik pembangun film ini, hal yang ga berhenti melintas dalam pikiran saya. Awalnya tidak ingin saya tulis tapi kok ya rasanya seperti kotoran di alis ya. Tidak terlalu terlihat tapi sangat mengganggu. Hmm, film ini semacam propaganda negatif terhadap Jerman yang memang konon, sekali lagi KONON terkenal dengan senjata kimia pemusnah masal alias tabun-nya. Cocoklah sudah dengan adegan berisi segala kemarahan Miss Israel berdarah Yahudi menikam Ludendorff, jenderal yang nota bene adalah seorang Jerman dengan pedang (khusus soal ini mohon jangan terlalu dibaca serius, saya mah hanya iseng ngait-ngaitin sejarah padahal belum tentu jugak ada hubungannya dengan si mbak ini..hellaaawww.. ini uda 2017 keleus, urusan Nazi dan Yahudi uda lewat jaoh 😒)


Satu yang ter-'juwarak' menurut saya. Soal Diana. Saya envy melihat kecantikan doi.. 😭 That's the point! Mbak ini uda tarung gila-gilaan, terbang sana terbang sini, lompat sana lompat sini, kebanting sana kebanting sini, tapi sedikitpun ga berkeringat, riasan wajah tetap paripurna, rambut ikal mayang melambai-lambai mahasempurna! 😭 Entah apa lagi yang harus saya tulis. Bahkan debu saja pun rasanya enggan melekat di riasan serba naturalnya. Bandingkanlah dengan saya nih..., baru beranjak dari ruang guru ke dalam kelas dengan cuaca agak panas, khas pukul setengah sebelas, baru sampai ruang kelas lantas berusaha menahan amarah oleh perilaku siswa yang malas, muka sudah memerah, bedak luntur, rambut entah kemana-mana layaknya surai singa πŸ˜‚ nasiiib..nasib.. kok yo nggak pernah sip! 😝


NB: *curiga =  dalam falsafah Jawa kuno tolok ukur kesempurnaan/keberhasilan pria diukur dari kepemilikan 5 hal. Wisma (rumah), turangga (kuda/kendaraan), kukila (burung dalam hal ini dari jenis Perkutut karena orang Jawa menempatkan Perkutut sebagai prestise, simbol keanggunan dan kemapanan), wanita (istri), curiga (senjata dalam hal ini keris)




Share:

Selasa, 16 Mei 2017

King Arthur: Legend Of Sword (Laporan Pandangan Mata dari XXI Studio 2)


Tahu cerita Adipati Karno? Tokoh pewayangan berdarah Pandawa yang dibesarkan oleh Kurawa dan akhirnya tetap setia membela Kurawa meski harus menghadapi saudara sendiri?! Ingat kisah Nabi Musa yang selamat setelah dihanyutkan oleh ibunya di sungai Nil? Setidaknya pernah denger donk..., kemasyuran Robin Hood 'maling' baik hati pengumpul pundi-pundi plus penyelamat banyak orang yang tertidas. Legenda Raja Arthur adalah sosok Karno versi Eropa yang dibesarkan oleh dunia dan para pekerja prostitusi kemudian harus menghadapi saudara (paman) sendiri, memulai 'karir' sebagai raja yang diselamatkan hidupnya ala-ala Nabi Musa, dan beraksi membelot, melawan kelaliman serupa Robin Hood. Pendek kata King Arthur itu sejenis paket komplit nan ideal kisah sesosok manusia yang memang titisan pemimpin yang amat dicintai rakyatnya namun harus tersingkir karena ketamakan dan ambisi saudara sedarahnya.

Diawali pemandangan bunga api raksasa pada ujung menara, disusul kekacauan dan perang kolosal yang melibatkan manusia serta makhluk jadi-jadian (bagi yang belum menonton jangan lantas membayangkan makhluk jadian ala dalam negeri sejenis gerandong atau genderuwo 😝) Makhluk jadian itu dicipta dengan spesial efek canggih, sekaligus ajaibnya meski begitu mengerikan jika benar-benar nyata, maka dalam film hanya disikapi dengan ketakutan sewajarnya oleh orang-orang Eropa (Inggris dalam cerita). Dahi saya sempat mengernyit menyaksikan suasana yang bagi saya sedikit aneh mengingat sebagai orang Indonesia, saya terbiasa dihadapkan pada suasana yang sebenarnya biasa namun disikapi agak luar biasa oleh orang-orang di sekitar saya.  Sekadar iseng terlintas bayangan jika para figurannya adalah alayers penonton acara-acara musik di stasiun televisi swasta itu maka, "Selamat! Kehebohan film ini levelnya akan mencapai to the max, bahkan tidak menutup kemungkinan cenderung membuat jera para penontonnya untuk menyaksikan ulang." 😩

Bicara tentang unsur pembangun film kolosal yang konon paling dinantikan sepanjang 2017 ini, setting dan pemeran pembantu menjadi salah sekian kunci utama penguat cerita. Khusus dalam King Arthur: Legend of The Sword, setting tempat dan pemeran pembantu yang saya rasa sukses mencuri hati para penonton mencakup tiga hal utama; megah, indah, artistik. Megah mewakili setting negeri sengketa yang berlatar benteng super tinggi dilengkapi menara utama yang menjadi salah satu inti penguat cerita. Bayangkan, betapa di zaman baheula manusia sudah mampu menghasilkan karya megah luar biasa. Meski ini hanya film dan bergenre legenda, saya sih percaya saja manusia pada zaman itu sudah mampu membangun peradaban demikian rupa, jika masih menyangkal, sila cocokkan dengan kastil-kastil megah dari abad 14, bahkan mungkin sebelumnya yang terdapat di Eropa sana. Kedua; indah! Sungai juga lembah-lembah ala pedesaan Inggris, Irlandia, atau mungkin juga Skotlandia sanggup menyejukkan mata (entahlah tepatnya ber-setting di mana yang jelas pada bagian ini saya hanya menerka belaka, jangan kiranya pembaca mentah-mentah menelan celotehan saya yang belum pernah sekalipun menjejakkan kaki ke negeri-negeri di sana. Saya hanya menerka berdasar pengalaman 'meminjam mata' via video-video National Geographic atawa foto siapa saja tentang negeri di sana yang sudah tersebar di dunia maya 😎✌) Ketiga dan ini berkaitan dengan pemeran pembantu namun 'berporsi besar' dalam pembentuk cerita; artistik. Dari kemunculan penyihir kegelapan serupa gurita raksasa namun berbadan tiga manusia, dua di antaranya berpenampilan sangat menggoda. Tak hanya mata pria yang dimanjakan dengan kemunculannya, saya yang wanita pun tak pelak berdecak kagum dengan geliat keduanya. Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang fulgar, namun lebih pada visual yang sangat artistik. Sama halnya dengan kemunculan dewi air, memesona, bahkan terlalu memesona dengan gerak slow motion-nya (entah mengapa, rasa-rasanya adegan apapun yang dibuat slow motion bagi saya berkali-kali lipat menjadi lebih menarik. Mungkin karna secara psikologis hal ini menimbulkan efek dramatis) rasa-rasanya semacam cantik namun kokoh, lembut sekaligus berkuasa. 

Beralih pada para pemerannya. Hi hallooo.. David Beckham is in the house! Bukan hal yang mengejutkan memang mengingat sosoknya adalah salah satu yang istimewa di negeri Big Ben sana. Setidaknya meski hanya muncul dalam satu scene yang durasinya tak lebih dari 2 menit, mungkin ia dianggap cukup bisa berandil menaikkan ratting film. Ya, khusus soal suami Posh Spice ini, saking sakti namanya, rasa-rasanya apapun yang disentuh akan menjadi uang. Tentunya Guy Ritchie as director plus produser ga mau rugi donk uda keluar duit banyak saat membesut salah satu cerita legenda paling TOP se-Britania Raya bahkan dunia dengan mendapuk Beckham sebagai cameonya. Kemunculan veteran MU ini tak pelak memberikan warna khusus dalam King Arthur versi 2017 dan diharapkan menjadi magnet tersendiri bagi penonton maupun calon penontonnya. Hanya saja, kok saya secara pribadi merasa Beckham di sini kurang greget ya, kurang 'setrong'. Karakternya ga terlalu dapat. Apa ekspektasi saya yang ketinggian? Dari suaranya saja terdengar agak cempreng. (Ah entahlah, mungkin ini hanya perasaan De' Hesty saja) πŸ˜ƒ

Ok, stop! Cukup pembahasan soal salah satu hot daddy in the world itu, mari kita beralih ke Jude Law. Yes, as usual, he looks cool and handsome, ha?! Tolong, pernyataan saya kali ini jangan dilawan, lemesin aja πŸ˜‚ doi bener-bener pemain watak. Masih segar dalam ingatan saya ketika si tampan yang satu ini berperan sebagai Dan, seorang penulis yang bisa dikatakan berkepribadian ganda dalam Closer (rilis 2004) Wajahnya yang inosen tapi selalu menyikapi apapun dengan dingin dan licik kembali terulang dalam King Arthur 2017. Tatapan mata dan ekspresi wajah sinisnya itu lho bikin gemes! Cocok, pas, tepat pemilihan dia sebagai raja Vortigern yang licik, jahat, ambisius. Sayangnya, ini hanya sayangnya lho ya, menurut saya, pada salah satu kostumnya terlalu kekinian. Coba berikan perhatian pada scene Vortigern menerima utusan yang menyatakan kepatuhan mereka terhadap raja, rasanya bukan menghadapi raja lalim zaman baheula, tapi semacam berhadapan dengan eksekutif muda yang rapi jali siap meeting untuk memenangkan tender. Belum lagi gaya rambutnya. Kali ini saya harus bilang Wow! Bahasa kasarannya, "Jaman semono rambute wes klimis nganggo pomade?!" (Zaman segitu rambutnya sudah klimis pakai pomade?!) Sama, sama halnya dengan King Arthur sendiri. Khusus King Arthur yang diperankan Charlie Hunnam, saya seakan terlempar kembali ke tahun 1999. Sosoknya serupa Brendan Fraser dalam film Mummy kala itu. Gaya berpakaian dan tindak tanduknya membuat saya semacam mengalami de javu. 

Guy Ritchie juga cerdas mengejawantahkan dua hal paling masuk akal dari sebuah legenda kehidupan kerajaan yang perbedaannya seperti langit dan bumi dengan kehidupan jalanan. Hal ini nyata dari yang paling sepele namun tanpa disadari membentuk karakter paling kuat dalam film. Cobalah lebih cermat menyimak aksen bahasa antara yang hidup di lingkungan istana dan di jalanan. Jika yang berada di balik tembok istana aksen Inggrisnya begitu pelan dan tertata, jelas dan berkelas, tak demikian halnya dengan Arthur saat masih praraja dan teman-temannya, lebih bebas, slenge'an, dan lugas. 

Di atas saya sudah membahas hal-hal yang menurut saya menarik dan merupakan poin plus bagi film ini. Baiklah,  mari melihat dari sudut pandang yang menurut saya agak tidak masuk akal dan membuat film ini terasa rumit jika ditonton oleh under 17th. Yang pertama, ini adalah kisaran tak masuk akalnya. Mengapa Arthur kecil tidak dibunuh sekalian oleh sang paman yang kala itu sudah dikuasai napsu iblis untuk berkuasa? Memang, jawabannya sepele. Jika Arthur kecil dibunuh saat sang ayah berseteru dengan iblis jelmaan pamannya, maka ya sudah, tidak akan ada legenda King Arthur dan Excalibur yang paling tersohor itu. Tapi setidaknya bisa dibuat sedikit dramatislah kisah selamatnya Arthur kecil usai menyaksikan perseteruan ayah dan pamannya, entah itu usai diteriakkan "Run, Son!" Ia lantas diselamatkan dengan sedikit perkelahian antara penyihir baik dan sang paman, atau apalah gitu supaya ada aksi perlawanan, tak hanya terkesan lolos gampangan lantas di kemudian hari sang paman baru dipusingkan dengan kemungkinan munculnya sang raja sebenarnya.  Ketidak masuk akalan yang kedua; dengan pasukan berjumlah ribuan, adalah aneh jika aroma pemberontakan yang hanya dilakukan oleh segelintir orang sulit terendus. Katakanlah memang aksi kudetanya underground, namun tetap janggal jika sebuah negara tak mampu mendeteksi keberadaan riak-riak kecil yang kemudian hari berubah menjadi percikan bahkan gelombang perlawanan paling meruntuhkan kekuasaan. Sementara itu, sedikit kekurangan fim ini hanya berasal dari alur penggeraknya. Film berdurasi kurang lebih dua jam ini mengadopsi alur campuran dengan kombinasi dialog disertai cuplilkan-cuplikan adegan imajiner  yang pasti menimbulkan kebingungan penonton bawah umur.

Untuk nilai moral sendiri, saya mencatat beberapa poin:
1. Kekuasaan lalim yang menghalalkan segala cara cepat atau lambat pasti akan runtuh.
2. Penolakan dan pengkhianatan jika disikapi dengan baik merupakan salah satu guru paling sempurna yang mampu menempa pribadi menjadi lebih cermat, kuat, dan hebat.
3. Meski ditutupi bagaimanapun, kebenaran hakikatnya tetaplah kebenaran. Tak terbantahkan, tak terelakkan.
4. Kadang kita terpaksa menjalani hal yang paling tidak kita ingini karena tak kuasa melawan takdir, namun jika sudah demikian, apa boleh buat, lakukan dan jalanilah sebaik-baik hal yang dapat kita perbuat.
5. Percayalah pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri meski kadang untuk memaksimalkan segala potensi itu kita perlu menaklukkan apapun yang menjadi kendala, termasuk kekerdilan diri sendiri.
6. Jadilah pemimpin yang mendengarkan.
7. Tetaplah bersetia pada siapapun yang sudah menjadi bagian dari tumbuh kembang.
8. (Ada yang mau menambahkan? Jika ada nanti akan saya beri nilai tambahan deh! Anggap saja kita sedang ulangan harian πŸ˜‚πŸ˜)

Akhirnya saya rasa tak berlebihan jika usai menonton film ini serta merta saya memberikan standing applause (saya berani berbuat demikian karena ketika menonton posisi bangku saya adalah yang paling belakang; A 10. Jadi jika pun terkesan norak, hanya beberapa orang saja yang melihatnya, dan tentunya tak mengganggu pandangan penonton lainnya) Ujung cerita yang sungguh membuat lega dan berakhir bahagia. Jika di-ratting dengan bintang skala lima, hmmm... angkanya 4,5. Mengapa tak lima? Mengutip pernyataan salah seorang transgender paling sohor di Indonesia, kesempurnaan hanyalah milik Allah πŸ˜†

Usai menulis ini saya merasa semacam purna menyampaikan materi pelajaran pada kelas VII semester gasal dengan masih berpegang  pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dongeng, spesifikasi legenda dan relevansinya dengan kehidupan nyata. Hah! πŸ˜…




Share:

Statistik Kunjungan

Arsip Blog

Recent Posts

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *