tentang kisah dan jejak langkah

Test foto 1

Foto sementara

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Senin, 20 April 2020

SLIDE-SLIDE TERAKHIRNYA DIIRINGI YIRUMA: DUA KALI TIGA RATUS ENAM PULUH LIMA HARI




Setiap kali mendengar instrumental Kiss the Rain oleh Yiruma, pikiranku selalu melayang kembali pada suatu masa. Rasanya ada yang hilang, sepi, hampa, tapi kesepian dan hampa itu sendiri seolah menjanjikan sesuatu harapan yang memerdekakan. Tak percaya? Cobalah luangkan waktu untuk mendengarnya. Begitulah musik, ia semacam aroma, yang mampu melemparkan seseorang jauh melampaui batas waktu dan ruang. 

Instrumental itu juga yang seketika muncul di benakku dan kupilih mengiringi slide obituarinya ketika pelantang huluku berdering nyaring pada Selasa petang, 13 Maret 2018. Penelepon itu tak lain adalah sahabatku yang juga pastor parokiku yang dengan nada suara tertahan, terkesan tersekat di tenggorokan  mengabari ketiadaan beliau yang hampir tiga tahun belakangan menjadi sosok yang paling sering ku 'isengi' ketika bertemu di lingkungan gereja. Ya, dia adalah seorang yang kujuluki 'Belanda keras kepala!', seringkali pula aku menyapanya, 'Meneer'. Sosoknya yang dua tahun lalu 'pulang' ke rumah Bapa, Pastor Jeremias Melis, OFMCap. 

Berbagai keisenganku itu mulai dari menarik dan menunjuk ujung jari-jemarinya yang kecoklatan dilekati nikotin dan sungguh kontras dengan kulit Eropa-nya (jika sudah begini beliau akan ganti menunjuk kulitku yang memang coklat khas kulit orang Jawa dan serta merta mengatakan, "Biar sama!"), atau melompat-lompat mengiringi jalannya (kadang di usiaku yang tak lagi muda, jika aku merasa dekat secara psikologis, aku akan bertingkah layaknya anak kecil di hadapan orang tersebut) ketika kira-kira setiap pukul 20.00 WIB beliau akan 'keluar kandang' berjalan-jalan kecil di halaman gereja setelah seharian masyuk di kamarnya dengan pekerjaan menerjemahkan berbagai naskah sosio budaya (jika sudah begini beliau akan pura-pura tidak melihatku meskipun berulang kali aku menghadang jalannya maka beliau akan diam dan menghadap ke arah berlawanan dari hadapanku, lantas melanjutkan aktivitas berjalan. Jika mengingat keisenganku yang ini, mataku seringkali gerimis), mengetuk pintu kamar kerjanyanya dan pada saat ia membuka pintu aku menutup muka dengan sekotak tar susu kesukaannya lalu segera menghambur pergi setelah sekotak tar susu itu telah digenggamnya lantas ia mengecup kotak berisi tar susu itu tanda ucapan terima kasih, atau… ketika aku seringkali memaksa mengajaknya berswafoto yang dibalas dengan gerakan ogah-ogahan namun tak pernah sekalipun beliau menolak.  

Tiga hari sebelum tulisan ini kumulai, tepatnya pada 17 April 2020, pada malam ketika radu segala aktivitas seharian dan sebelum beristirahat, aku memeriksa perangkat komunikasiku. Membongkar galeri tempat penyimpanan video dan foto karena pada layar gawaiku sudah muncul notifikasi memori yang mulai penuh dan ini berarti harus ada minimal foto atau video yang kuhapus. Jemari dan mataku berhenti pada sebuah video lawas yang masih tersimpan. Kusentuh dan segera terdengar penggalan dentingan piano Yiruma, Kiss the Rain disertai gambar gerak suasana malam jenazah disemayamkan di Kapel Pastoran Singkawang. Ya, video itu aku sendiri yang merekamnya setelah ibadat malam menjelang esok pemakaman dan kala itu juga slide buatanku diputar untuk mengenang dia yang sudah berbaring dengan tenang berselimut kain putih bersih di hadapan seluruh pelayat yang hadir.  

Beberapa teman mencoba menguatkan dengan mengelus pundak atau punggungku saat beberapa kali jenazahnya kuhampiri. Mereka sama berduka denganku. Di hadapannya, aku tidak menangis. Aku tidak mau menangis! 

Aku mencoba meraba ingatanku, seketika laci-laci emosiku terbongkar, ada yang berlomba menyeruak, menyesaki kepala dan hati. Kulihat lagi jenazahnya yang pucat. Biasanya sebelum ia tiada, kulitnya yang Eropa memerah kala terpapar panas khatulistiwa. Kusentuh ujung jari kecoklatan bersalut nikotin itu sambil berbisik, "Hei, Meneer! Sekarang sudah tenang ya, bisa merokok tanpa mendengar omelanku. Dasar Belanda keras kepala! Bahagia di rumah Bapa, ya!" Selebihnya aku hanya bisa melangitkan doa ala kadarnya. Hatiku mulai tak kuat, aku membalikkan badan.

Beringsut ke pojok kapel. Aku menyibukkan diri mempersiapkan komputer jinjing yang akan memutar slide-slide semasa hidupnya yang sudah kupersiapkan sesuai pesanan pastor paroki pada saat mengabarkan berita duka tentang kepergiannya sekaligus memintaku membuat slide untuk mengenangnya. Aku memang banyak menyimpan foto Meneer Belanda satu ini. Kadangkala foto-foto itu kuambil tanpa sepengetahuannya, ada juga yang merupakan karya teman yang juga sesama pengabadi gambar, dan tak lupa foto-foto hasil memaksa ia untuk swafoto bersama. 

Pada menit-menit ketika mempersiapkan pemutaran slide aku masih kuat. Aku juga cukup tenang ketika para pelayat kulihat mencoba menempatkan dirinya masing-masing pada posisi duduk paling nyaman. Beberapa menit berselang. Jariku menyentuh perintah slide show. Dentingan Kiss the Rain mulai menggema di kapel maupun area halaman kapel. Saat itu juga hatiku runtuh. Aku semakin beringsut mundur beberapa jarak ke sudut kiri depan kapel. Hanya ada tiga orang termasuk aku di pojok itu, dua lainnya fokus melihat tayangan pada layar.      

Aku melantai, mendekap lutut dan menenggelamkan wajahku di antaranya. Aku kalah, Meneer, aku menangis. Aku membayangkan wajahmu andai saja kau ada di situ di dekatku. Kemungkinannya hanya ada dua. Pertama kau akan diam saja sambil memandang dengan tatapan iba, kemungkinan kedua kau akan memandang sebentar lantas berlalu, tak peduli apa. Kemungkinan kedua memang menyebalkan, tapi itu yang paling mungkin kau lakukan, karena setahuku begitulah sikapmu menghadapi keisenganku yang tiada tara. Tapi sungguh, kali itu aku menangis bukan karena aku sedang iseng berpura-pura menggoda. Ketahuilah, aku sangat berduka! 

Kusimpan tangisku dalam diam, kubiarkan lelehan air mata menggelincir dari netra juga dalam diam. Aku tidak tersedu. Tapi kurasa tangis jenis itu jauh lebih sembilu. Kiss the Rain Yiruma sengaja kuatur terlantun dua kali. 2 kali 4 menit 20 detik dan memuat setidaknya 50-an fotomu dari berbagai sudut dan peristiwa. Ketika memasuki 4 menit 20 detik kedua, aku rasa aku cukup kuat. Kuusap mataku yang sembab. Aku lantas berdiri meraih alat komunikasi, memilih aplikasi kamera dan menyeting tangkap gambar dalam rupa gerak dan suara. Jadilah rekaman video yang pada 17 April 2020 lalu menarik ingatan seluruh aku pada malam itu. Malam dimana aku menangisi kepergian salah satu sahabatku. 

Dalam hidup aku mengalami beberapa peristiwa yang rasanya cukup menguras kekuatan hatiku sebagai seorang manusia. Cukup membuat batin menggeletar hebat meremangkan air mata. Sanggup menggerus keperkasaan jiwaku yang adalah seorang wanita. Ketegaranku luruh, menyuruk ke dasar bumi. Dan harus kuakui, kualami lagi dalam peristiwa kali ini. Menyedihkan ketika kau harus kehilangan salah seorang sahabat yang kau sayang. Karena jika kau menyayangi sesuatu, setiap kali bayangannya sirna dan berlalu, kau akan kehilangan sebagian dari dirimu.

Hari-hari setelah kepergiannya, setiap kali ada acara di gereja, rasanya ada yang kurang, ada yang hilang. Memang dia adalah sosok yang tak suka pesta. Tak suka tak berarti antipati. Sebelumnya dalam berbagai perayaan dia tetap ada meski terkadang hanya beberapa menit saja dan hampir selalu menempati posisi di bangku-bangku paling belakang. Bukankah dalam hidup kita juga memerlukan sosok-sosok semacam itu. Yang rela hanya berdiam di belakang menjadi penonton yang tak banyak berkomentar dan yang tak hendak menjadi pusat perhatian. Bayangkan saja jika semua manusia inginnya bersuara, inginnya didengar, dan inginnya menjadi pusat perhatian, betapa bising dan sengkarutnya dunia. Namun demikian bukan berarti sosoknya yang acapkali menempati posisi di bagian belakang lantas tak diperhatikan. Sadar atau tidak, seorang biarawan atau biarawati dalam berbagai kondisi mereka tetap menjadi penjuru perhatian. Apalagi si Eropa yang satu ini. Dalam sebuah perbincangan dia pernah berseloroh bahwasanya manusia sejenis dia seharusnya dilestarikan, karena kini hanya bisa dihitung dengan jari misionaris asal Eropa yang masih eksis di Indonesia. Anda tahu jawabanku saat itu. Cukup kurang ajar memang, tapi aku yakin dia tidak tersinggung. Aku menjawab, "Huh, memangnya hewan langka, pakai acara dilestarikan segala!"

Dua tahun sudah berlalu setelah kepergiannya. Dua kali tiga ratus enam puluh lima hari plus satu karena tahun ini adalah tahun kabisat! Beberapa kali menyambangi ia di 'rumah' barunya. Rumah baru yang sesuai keinginannya. Rumah baru yang sederhana bersebelahan dengan kapel kecil permintaannya yang untung saja masih sempat terselenggara. Berbeda dengan inginnya tentang kamar-kamar perawatan kesehatan Kapusin usia rembang petang di pastoran yang sesuai standar rumah sakit, yang hingga dua tahun ketiadaannya pun masih tiada.  

Yang ada padaku kini hanya buku-buku sosio budaya terjemahannya yang selalu kupercaya akan menjadi sumbangan pada kemanusiaan berupa catatan sejarah dan fakta, potret-potretnya, lima puluh dua menit rekaman suara saat ia kuwawancara, beberapa pesan singkatnya, diska lepas dengan gantungan berwarna oranye, merah putih, biru khas negerinya, dan tentunya ingatan kenangan tentang seorang sahabat.    

Kini, menjelang 24 April peringatan 82 tahun usianya jika saja ia masih ada di dunia, Instrumental Kiss the Rain dari Yiruma kuputar ulang. 

Air mataku berlinang, dukaku menggenang.
         


Share:

Minggu, 09 Februari 2020

SANGSI


Sungguh, dasyat sangat rahsia 
yang ampun-ampunan kau salang pada ubun-ubunku.
Tak banyak yang aku tahu, 
karenanya,
kau tetap kuletakkan pada garis batas ambigu.



Share:

Minggu, 23 Juli 2017

Keberanian

Kamu harus aku tinggalkan,
karna aku perempuan,
butuh kepastian!
Seperti Pronocitro yang pasti datang,
meski harus mengetuk pintu Mendut, 
malam-malam.


(Jogjakarta, 2007)
Share:

Kamis, 06 Juli 2017

24 Karat, Tanpa Syarat


"Urusan hati, soal rasa, kadang tak terjangkau dengan logika."

"Anda pernah jatuh cinta?" Atau jika saya sedikit menaikkan kadar keisengan pertanyaan saya, maka saya akan menanyakan, "Seberapa sering Anda jatuh cinta?" Jatuh cinta atau mengagumi apa yang memikat dari objek yang membuat kita akhirnya merasa jatuh cinta, terkadang menimbulkan kesulitan untuk  sekadar membedakan gradasi rasa yang tercipta. Apakah rasa itu timbul murni bukan berdasar suatu kondisi atau semata-mata tercipta karena suatu tendensi. 

Kebanyakan dari kita punya seribu satu alasan untuk mendeskripsikan ketertarikan terhadap seseorang yang hendak, atau bahkan sudah menjadi pasangan. Mulai dari hal yang kasat mata, ketampanan, kecantikan, bentuk badan, serta jutaan keindahan yang rasanya diciptakan Tuhan khusus untuk memikat alam bawah sadar. Tidak berhenti sampai di situ, ketertarikan tak ayal merambat, menjangkau segala sifat yang menyentuh perasaan. Mulai dari sifat tenang, keibuan, kebapakan, bijaksana, atau ragam pilihan lain yang pada intinya menyuguhkan bergumpal-gumpal karakter positif orang yang kepadanyalah kita bertekad bulat menjatuhkan pilihan. Pendeknya, segala kelebihan menjadi hal mutlak untuk bahan perbandingan, tanpa mau menerima segenap kekurangan pribadi yang bersangkutan. Belum lagi jika rasa tercipta karena berbagai bentuk tuntutan  kehidupan. Jika disederhanakan maka akan timbul pernyataan, "Saya mau dengan kamu karena kamu punya ini, punya itu," atau "Karena kamu anak si ini, si itu," "Karena kamu pendidikannya ilmu ini, ilmu itu," "Karena profesinya si dia ini, itu," dan berbagai hal yang melatari timbulnya ungkapan 'mau'. Sungguh penuh syarat, bahkan terkadang rasanya terlampau sarat dan sungguh berat.   

Suatu malam, pada ingar-bingar derai tawa dalam pesta pertambahan usia seorang sahabat, pastor paroki  yang juga hadir, melontarkan undangan lisan kepada saya untuk menghadiri sebuah pesta. Pesta pernikahan. Pada awal ajakannya serasa tak ada yang istimewa. Puluhan, bahkan ratusan pesta pernikahan telah lewat begitu saja dalam laman hidup saya. Kadang saya menjadi bagian dari sukses jalannya pesta pernikahan, entah sebagai pengabadi gambar, pembaca kutipan ayat suci dalam pemberkatan pernikahan, dan lebih sering saya  datang hanya sebagai tamu undangan. Biasa pula saya melewati prosesi pernikahan yang menjadi momen paling sakral bagi kedua pasangan dengan rasa yang datar, tanpa embel-embel perasaan rawan yang mangkus menyita keharuan. 

Bayangan tentang pesta pernikahan pada umumnya lantas silang semburat dalam buncahan pikiran saya, namun segera dipadamkan oleh kalimat susulan pastor paroki, "Yang menikah pasien rumah sakit kusta, Mbak, dengan orang luar."  Saat itu saya tak banyak bertanya, namun di dada dan di kepala seperti ada yang berlomba-lomba, bergegas hendak menyaksikan perhelatan untuk menuntaskan segala dahaga akan berbagai keingintahuan.

22 April 2016. Suatu sore yang teduh di Jumat  yang penuh berkat. Di hadapan saya berdiri sepasang muda-mudi, berbusana pengantin lengkap dengan buket bunga di tangan calon pengantin wanita. Sekilas tak ada yang sumbang dalam pandangan mata. Jika pun wajah mereka terlihat tegang, segala kemakluman boleh disematkan. Siapa yang tak tegang jika sebentar lagi akan mengalami perubahan status dalam kehidupan. Semisal yang awalnya sendirian lantas berpasangan, atau manakala pasangan menantikan kelahiran buah hati penerus keturunan. Ya, ketegangan yang wajar dari sebuah fase penting perubahan dalam kehidupan perorangan. Yang pria bernama Roni, yang wanita adalah Ida. 

Melihat ketegangan di wajah keduanya, saya yang ikut mengabadikan dalam slide diam momen penting keduanya lantas berkelakar, "Roni, mukanya tegang amat, wajah senang, Roni, wajah senang! Idaaa…, senyum!" Namun usaha saya tak sepenuhnya berhasil, keduanya tetap memandang tegang ke arah saya, sebaliknya tamu-tamu lain malah semakin bersemangat menggoda keduanya. 

Beberapa menit berselang, tiba saat keduanya beriringan memasuki kapel di lingkup Rumah Sakit Kusta, Alverno. Tak sedikitpun ada yang lepas dari pengamatan saya di balik lensa kamera. Dari balik lensa pulalah pancaran keharuan mulai meradang dan berpendar dalam dada saya. Jika pemandangan pernikahan pada umumnya pengantin wanita melangkah lancar dengan buket bunga tetap di tangan, Ida mengalami sedikit kerepotan karena gaun pengantin yang panjang menghalangi langkah kakinya yang kurang sempurna disebabkan oleh penyakit kusta. Serta-merta Ida menyerahkan buket bunga pada ibunya dan menjinjing gaun pengantin putihnya, berjalan terseok, namun tanpa kehilangan keanggunan sebagai perempuan. Menghadapi pemandangan ini, usai menekan rana pada kamera, saya bergegas membalikkan badan, secepatnya memasuki kapel. Tak tega, hati saya kehilangan kuasa, mata saya mulai berkaca-kaca.

Misa pemberkatan pernikahan yang sedianya dipimpin oleh pastor lain ternyata sengaja diambil alih oleh pastor paroki. Beliau rupanya tak ingin kehilangan momen spesial mempersatukan dua insan yang telah dipilih dan dipertemukan Tuhan dalam ikatan pernikahan.
Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan lancar. Sedikit yang berbeda adalah pada bagian saat pasangan meminta restu dari orang tua untuk memulai  babak baru kehidupan. Jika pada umumnya kedua pasangan memohon restu dengan cara sungkem, maka disebabkan keterbatasan fungsi organ tubuh pengantin perempuan, proses sungkem tak dilakukan, melainkan diganti dengan penumpangan  tangan orang tua pengantin di pundak keduanya. Pada bagian ini keharuan masih melingkupi atmosfer kapel. 

Ketegangan hilang manakala janji pernikahan usai diikrarkan, penyematan cincin pengikat telah dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan pembukaan cadar pengantin perempuan yang disusul pendaratan ciuman oleh sang pasangan. Sorak-sorai dan tepuk tangan 70-an hadirin yang didominasi rekan-rekan pasien kusta lainnya membahana dalam kapel nan sederhana. Semua sungguh bergembira, semua larut dalam tawa, semua membaur dalam suka cita.

Ida, masih dari balik lensa, manakala saya temukan rona bahagia memancar dari pribadimu nan sederhana. Cinta dan kemenangan telah kau genggam dalam sematan cincin pernikahan. Ya, dalam cinta 24 karat dari Roni yang memilih dan mencintaimu, tanpa syarat!



Share:

Jumat, 02 Juni 2017

Yang Awesome dari Wonder Woman 😎

Akhirnya yang ditunggu-tunggu sejak kapan tau muncul juga di layar lebar. Yep! Superhero perempuan yang kehadirannya dalam Batman vs Superman; Dawn of Justice besutan Zack Snyder lebih dari setahun silam memang sukses menculik perhatian. Dalam Batman vs Superman, doi muncul sekilas dalam beberapa scene tapi dihadirkan dengan pesona level maksimal membuat mbak sexy mantan Miss Israel ini benar-benar bersinar terang. Masih di kisaran penampilannya di Dawn of Justice, di film itu selain sexy, kemunculan yang tepat pada waktunya ditambah ilustrasi musik yang pun terkesan luar biasa memacu adrenalin kian menimbulkan 'greget' tersendiri bagi sosoknya. Tampil elegant dan sexy plus memiliki kekuatan yang mengagumkan rasanya cukup menjadi poin pembangun karakter paling membuat penasaran untuk jauh lebih diperhatikan oleh pirsawan. (3 kali saya mengulang kata sexy dalam paragraf ini. Berarti mbaknya memang benar-benar sexy menurut saya! πŸ˜ƒ)

Menggunakan alur campuran dengan setting tempat-tempat mengagumkan. Gambaran planet bumi menjadi 'pembuka mantra' legenda ala DC comics yang mengusung perempuan sebagai superheronya. Film ini juga menjadi pembelajaran bagi para orang tua yang harus lebih peka terhadap tumbuh kembang psikologis anak. Bagaimana tidak, sejak awal ditekan bahwa anak adalah peniru andal segala perilaku orang dewasa. Diana yang nanti setelah dewasa menjelma menjadi Wonder Women (WW) sedari kecil sudah disuguhi pemandangan latihan bela diri ala perempuan-perempuan Amazone. Dari kebiasaan itu juga akhirnya ia yang adalah anak Dewa Zeus berlatih mengalahkan sang abang. (Pas nulis abang kok rasanya agak aneh ya.. mungkin karena biasanya kalau pake kata abang, saya bakalan bilang "Bang, 1 mangkok ga pake bihun ya!" Ato "Bang, Bang, kiri Bang!"πŸ˜‚ *sorry buat yang dipanggil abang oleh pacar ato pasangannya 😝)

Di film ini saya melihat ada kecenderungan kiblat beladiri yang dianut oleh doi dan kroni-kroninya adalah capoeira. Perhatikan saja beberapa kali dengan terang dan jelas gerakan menendang dengan teknik memutar 360° disodorkan ke hadapan penontonnya.

Masih di kisaran alur, secara pribadi ada yang agak mengecewakan bagi saya. Tampaknya sang sutradara belajar banyak dari Dawn of Justice yang kala itu menuai kritikan akibat lompatan-lompatan alur mahadahsyat yang sempat membingungkan penonton. Bercermin dengan kekecewaan yang lalu, penulis skenario dan sutradara WW terkesan lebih pelan dan hati-hati. Saking pelannya bahkan 30 menit pertama saya cenderung mengalami kebosanan karena rasanya terlalu banyak obrolan bertele-tele dengan aksi-aksi standar. Mungkin lambatnya alur berkaitan dengan sekuel yang semoga digarap lagi di tahun-tahun berikutnya. Jadi film kali ini hanya permulaan yang menjelaskan asal usul, cikal bakal WW. Berkaitan dengan jalannya alur yang perlahan rasanya semua termaafkan dengan mendapuk Gal Gadot sebagai pemeran utama yang memang berparas cantik lagi body ciamik. Ia semacam daya hipnotis tersendiri yang sanggup membuat saya bergumam, "Tuhan saat kau menciptakan mbak ini, pasti hati-Mu sedang senang! Look at her eyes, her lips, her body. Just perfect!"

Beralih pada bagian lain yang tak kalah menyandera perhatian. Kostumnya! Saya memang harus bilang Wow sejak kali pertama melihatnya di Batman vs Superman. Sexy tapi ga bitchy, terbuka tapi sepertinya (sepertinya lho ya..) enggak menimbulkan birahi bagi para penonton di luar kaum hawa πŸ˜‚ kecuali hmm.. imaji-imaji liar yang.. ah sudahlah tak perlu diteruskan, you know what I mean 😝 warna kostum dan desainnya meski mengadopsi desain awal dan asal kemunculan dalam komik, tapi tetap ga lepas dari polesan kekinian hanya saja yang sekarang lebih sopan ditambah penutup 'segitiga' ajaib semacam yang digunakan ksatria-ksatria zaman Romawi. Lanjut, mari kita bicara soal *'curiga'-nya mbak WW. Kemunculan tali lasso salah satu senjata andalan WW dalam beberapa kali rasanya kurang greget. Saya pribadi berharap ketika lasso ini dililitkan pada tubuh korban yang hendak diketahui kejujurannya, ada ekspresi yang lebih menyentak tapi ternyata hanya sebatas itu saja yang disodorkan oleh sang sutradara. Entah mengapa saya tiba-tiba membayangkan akting Jenifer Lopez di Enough pada salah satu scene-nya yang terasa lebih menggigit, sekaligus berkhayal andai para tokohnya seekspresif JLo, pasti lebih 'ugh!' πŸ’ͺπŸ‘ŠπŸ˜Ž Berbeda halnya dengan penggunaan gelang penangkis peluru plus penghimpun kekuatan yang ketika digunakan menimbulkan efek getaran suara yang sungguh-sungguh cetar membahana seluruh studio 3 (yang ini saya suka, saya suka!) πŸ™Œ

Ada yang jernih saya tangkap dari kisah ini. Ternyata dendam tak selamanya negatif! Selama dendam itu berhasil dibelokkan pada alur yang sepantasnya, maka efek-efek positif rasanya akan lebih dominan. Lihatlah, WW semakin bertekad kuat menghakimi Ares sejak melihat sang cinta pertama meledak di udara bersama pesawat dan tumpukan senjata kimia. Dan satu hal lagi, belajar dari hmmm sapa tuh, Patrick yang jelmaan Ares, bahwasanya hal paling menyakitkan adalah pengkhianatan dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal dan bahkan bersikap manis di hadapan. Kalau kata Bang Napi, "Waspadalah, waspadalah!"

Oiya, FYI (For Your Information), karena saya perempuan, hmm.. ada berapa adegan membuat baper. Mari saya rinci. 1. Adegan tidur di perahu layar yang membuat geregetan tapi sekaligus membuat penonton kecewa. We need more! πŸ˜…Saya pribadi sudah berpikir sampai kemana-mana khas ala-ala film superhero yang tetap dibumbui adegan-adegan 'rockmantic' πŸ˜‚πŸ˜ˆπŸ‘…ternyata dalam adegan ini sang sutradara memang sungguh punya etika, mereka tak bercinta di atas tenangnya samudera. 2. Adegan Steve dan Diana memasuki gerbang London via perairan mengingatkan saya pada salah satu adegan di Titanic saat Rose Dawson memasuki wilayah Amerika dengan latar Patung Liberty megah berdiri ketika dilewati. Sungguh, alam bawah sadar kita diajak untuk mengagumi simbol-simbol kemegahan Eropa dan Amerika. 3. Adegan Steve dan Diana yang berdansa di bawah guguran salju membuat saya lantas berkhayal, "Hei you! Come, dance with me, come.." (ngarep 😝)

Untuk pemeran Steve sendiri, kok kurang ganteng ya yang dipilih. Harusnya cari yang lebih handsome donk ya.. secaraaa.. doi kan bakal jadi cinta pertamanya Diana. Dan satu lagi, untuk pemeran dr Poison, sumpah, ini perempuan ngeselin banget, dari wajah dan kelakuannya. Bisa dikatakan dia sukses memerankan karakter antagonis ahli kimia yang psikopat. Bicara soal ekstrinsik pembangun film ini, hal yang ga berhenti melintas dalam pikiran saya. Awalnya tidak ingin saya tulis tapi kok ya rasanya seperti kotoran di alis ya. Tidak terlalu terlihat tapi sangat mengganggu. Hmm, film ini semacam propaganda negatif terhadap Jerman yang memang konon, sekali lagi KONON terkenal dengan senjata kimia pemusnah masal alias tabun-nya. Cocoklah sudah dengan adegan berisi segala kemarahan Miss Israel berdarah Yahudi menikam Ludendorff, jenderal yang nota bene adalah seorang Jerman dengan pedang (khusus soal ini mohon jangan terlalu dibaca serius, saya mah hanya iseng ngait-ngaitin sejarah padahal belum tentu jugak ada hubungannya dengan si mbak ini..hellaaawww.. ini uda 2017 keleus, urusan Nazi dan Yahudi uda lewat jaoh 😒)


Satu yang ter-'juwarak' menurut saya. Soal Diana. Saya envy melihat kecantikan doi.. 😭 That's the point! Mbak ini uda tarung gila-gilaan, terbang sana terbang sini, lompat sana lompat sini, kebanting sana kebanting sini, tapi sedikitpun ga berkeringat, riasan wajah tetap paripurna, rambut ikal mayang melambai-lambai mahasempurna! 😭 Entah apa lagi yang harus saya tulis. Bahkan debu saja pun rasanya enggan melekat di riasan serba naturalnya. Bandingkanlah dengan saya nih..., baru beranjak dari ruang guru ke dalam kelas dengan cuaca agak panas, khas pukul setengah sebelas, baru sampai ruang kelas lantas berusaha menahan amarah oleh perilaku siswa yang malas, muka sudah memerah, bedak luntur, rambut entah kemana-mana layaknya surai singa πŸ˜‚ nasiiib..nasib.. kok yo nggak pernah sip! 😝


NB: *curiga =  dalam falsafah Jawa kuno tolok ukur kesempurnaan/keberhasilan pria diukur dari kepemilikan 5 hal. Wisma (rumah), turangga (kuda/kendaraan), kukila (burung dalam hal ini dari jenis Perkutut karena orang Jawa menempatkan Perkutut sebagai prestise, simbol keanggunan dan kemapanan), wanita (istri), curiga (senjata dalam hal ini keris)




Share:

Statistik Kunjungan

Arsip Blog

Recent Posts

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *